Pasar tradisional. Foto: rri.co id
Penulis: Gembong Wiroyudo
BATARA.INFO, Jakarta – Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali bergerak di kisaran 5 persen pada 2025. Bank Dunia, melalui laporan Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2025, menilai perekonomian nasional tetap tangguh di tengah ketidakpastian global. Stabilitas makro terjaga, inflasi terkendali, dan kebijakan fiskal masih berada dalam koridor kehati-hatian.
Namun, di balik angka yang terlihat meyakinkan itu, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan: mengapa rasa aman dan optimisme masyarakat belum sepenuhnya mengikuti narasi pertumbuhan tersebut?
Bank Dunia sendiri memberi isyarat bahwa persoalan ekonomi Indonesia hari ini bukan lagi semata soal laju pertumbuhan, melainkan kualitas pertumbuhan. Lapangan kerja memang tercipta, tetapi sebagian besar berada di sektor bernilai tambah rendah. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat: upah riil yang stagnan, daya beli yang tertekan, serta rasa ketidakpastian dalam jangka panjang.
Di sinilah letak jurang antara statistik dan pengalaman publik. Pertumbuhan ekonomi sering kali dibaca dari tabel dan grafik, sementara masyarakat menilainya dari harga kebutuhan pokok, kepastian kerja, dan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika dua perspektif ini tidak bertemu, wajar jika muncul kegelisahan.
Laporan Bank Dunia juga menekankan pentingnya transformasi ekonomi ke arah yang lebih produktif dan berkelanjutan. Digitalisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan infrastruktur menjadi kunci agar pertumbuhan tidak berhenti pada angka, tetapi benar-benar mengangkat kesejahteraan.
Namun, transformasi itu membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan. Tanpa perbaikan struktural, pertumbuhan 5 persen berisiko menjadi rutinitas tahunan yang tidak cukup kuat untuk mendorong lompatan kesejahteraan. Indonesia bisa stabil, tetapi berjalan di tempat.
Dalam konteks ini, tugas pemerintah tidak berhenti pada menjaga indikator makro tetap hijau. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa arah pembangunan dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas. Kebijakan ekonomi perlu lebih berpihak pada penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan produktivitas, dan perlindungan daya beli.
Media pun memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya. Bukan sekadar mengutip angka pertumbuhan, tetapi mengajak publik memahami apa makna pertumbuhan itu bagi kehidupan sehari-hari. Kritik dan optimisme harus berjalan beriringan, agar diskursus ekonomi tidak terjebak pada euforia semu atau pesimisme berlebihan.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa publik masih resah” bukanlah bentuk penyangkalan atas capaian ekonomi, melainkan sinyal bahwa pekerjaan rumah masih besar. Seperti dicatat Bank Dunia, menjaga pertumbuhan adalah keharusan. Tetapi memastikan pertumbuhan itu adil, inklusif, dan dirasakan masyarakat—itulah ujian sesungguhnya.
