Jamintel Prof. Dr. Reda Manthovani : Kunci Ketahanan Pangan, Sinergi Para Pemangku Kepentingan

Ki ke ka ; Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah, Kajari Kabupaten Tangerang Afrillianna Purba, Jamintel Reda Manthovani, Kajati Banten Siswanto dan Bupati Tangerang Maesyal Rasyid Bersama Kelompok Tani (Poktan) Cecere A dengan penenan bawang merahnya.

Foto : (Dok. Kejari Tangerang)

Penulis : G.A. Guritno

BATARA,INFO, Tangerang – Wajah sumringah terpancar dari para petani dan pejabat yang berkumpul di Desa Sarakan, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, pada Senin sore, 8 September 2025.

Panen perdana bawang merah di lahan seluas 7.000 meter persegi menjadi puncak keberhasilan program Jaksa Garda Desa (Jaga Desa), sebuah inisiatif dari Kejaksaan Agung RI. Di bawah terik matahari pukul 16.00 WIB, para pejabat dan petani bergotong royong memanen hasil yang memuaskan.

Tak tanggung-tanggung, dari lahan yang dikelola oleh Kelompok Tani (Poktan) Cecere A ini, berhasil dipanen 5,4 ton umbi bawang merah kering. Hasil ini merupakan bukti nyata pemanfaatan lahan desa yang produktif dalam mendukung ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Acara panen dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM Intelijen) Prof. Reda Manthovani sebagai inisiator program, serta Bupati Tangerang Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si, dan Wakil Bupati Intan Nurul Hikmah. Turut hadir pula Kajati Banten Dr. Siswanto, SH, MH, dan Kajari Kabupaten Tangerang Dr. Afrillianna Purba, SH, MH.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa program ini adalah tindak lanjut dari kerja sama yang ditandatangani pada 25 Juni 2025 antara Pemkab Tangerang dengan PT Paskomnas Indonesia, PT Pupuk Indonesia, dan Telkom University.

“Pemanfaatan lahan desa tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya petani,” katanya.
Solusi Cegah Inflasi dan Mensejahterakan Petani

Menurut Prof. Reda Manthovani, pemilihan bawang merah bukan tanpa alasan. Komoditas hortikultura ini sangat strategis dan kerap menjadi salah satu penyumbang inflasi nasional. Dengan meningkatkan produksi di tingkat desa, diharapkan dapat membantu menekan laju inflasi dan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.

Program Jaga Desa juga sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI, khususnya pada poin kedua tentang swasembada pangan. Keterlibatan kejaksaan dalam program ini merupakan bentuk dukungan terhadap pembangunan desa yang berkelanjutan.

Panen perdana ini menghasilkan 5,4 ton bawang merah kering, yang jika dihitung dengan harga jual di tingkat petani sekitar Rp25.000 per kilogram, total nilai panen diperkirakan mencapai Rp140 juta. Sebagian hasil penjualan akan dialokasikan kembali untuk pembelian bibit, sementara sisanya menjadi keuntungan bagi para petani. Dengan pola ini, petani tidak hanya mendapatkan keuntungan langsung, tetapi juga dapat menjaga keberlanjutan usaha tani mereka.

Kolaborasi Berkelanjutan Pembangunan Desa
Keberhasilan panen ini tak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Metode tanam yang efektif, yang menyesuaikan kondisi air dan cuaca, ditemukan oleh tim akademis dari Telkom University.

Sementara itu, PT Paskomnas Indonesia dan PT Pupuk Indonesia membiayai riset dan menjadi tim ahli pertanian dari masa tanam hingga panen. Kehadiran off taker (pihak pembeli) yang menyerap hasil panen juga memastikan petani tidak perlu khawatir soal pemasaran

Doni Saputra, Kasi Intel Kejaksaan Negeri Tangerang, menjelaskan bahwa ide Prof. Reda adalah agar dana desa dapat tepat guna untuk mendukung kemandirian pangan lokal. Ke depannya, 40 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari empat kabupaten di Banten akan diatur pola tanamnya melalui Paskomnas.

Dengan jadwal tanam yang bergilir setiap dua minggu, pasokan bawang merah akan terus tersedia sehingga harga bisa stabil dan panen dapat terjadi secara siklus yang tidak pernah berhenti.

Panen di Desa Sarakan ini menjadi contoh nyata bahwa sinergi antara lembaga penegak hukum, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan besar.

Program Jaga Desa tidak hanya menguatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberdayakan masyarakat, menjadikan mereka motor ekonomi lokal yang tangguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *