
BATARA.INFO, Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik setelah dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan di pasar keuangan global.
Dibandingkan sejumlah negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia, rupiah dinilai lebih rentan mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Secara nominal, mata uang Indonesia memang termasuk yang terbesar angkanya di Asia Tenggara. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per dolar AS. Sementara itu, dolar Singapura berada di sekitar 1,3 SGD per USD dan ringgit Malaysia sekitar 4 MYR per USD.
Namun para ekonom menilai besarnya angka nominal tidak otomatis menunjukkan lemahnya ekonomi suatu negara. Jepang misalnya, juga memiliki denominasi mata uang yang besar terhadap dolar AS, tetapi tetap menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Pengamat pasar menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Salah satu faktor utama adalah tingginya suku bunga Amerika Serikat yang membuat investor global lebih memilih menyimpan dana dalam aset berbasis dolar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik dunia serta meningkatnya harga energi mendorong investor mencari aset aman atau safe haven, termasuk dolar AS.
Indonesia juga dinilai masih memiliki kebutuhan dolar yang tinggi untuk impor energi, bahan baku industri, hingga pembayaran utang luar negeri. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan dolar di dalam negeri terus meningkat.
Di sisi lain, pasar keuangan Indonesia masih cukup bergantung pada aliran dana asing. Ketika investor global menarik dana dari negara berkembang, rupiah biasanya ikut mengalami tekanan.
Berbeda dengan Indonesia, Singapura memiliki sistem moneter yang sangat kuat melalui Monetary Authority of Singapore (MAS). Negara tersebut juga didukung cadangan devisa besar serta statusnya sebagai pusat keuangan internasional di Asia.
Sementara Malaysia dinilai lebih stabil karena ditopang ekspor elektronik dan energi yang kuat, surplus perdagangan yang relatif terjaga, serta intervensi aktif Bank Negara Malaysia dalam menjaga kestabilan ringgit.
Meski demikian, ekonom menilai Indonesia tetap memiliki fundamental ekonomi yang besar di kawasan ASEAN. Indonesia masih menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan pasar domestik yang kuat, sumber daya alam melimpah, serta pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat.
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan Bank Indonesia, arus investasi asing, serta kondisi ekonomi dunia khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat.
