Foto : Yunan Arif
Penulis : Yunan Arif
BATARA.Info, Bogor – Sebagian besar wilayah Rukun Warga atau RW 03 Pabuaran, Bojonggede yang hanya terdiri dari empat RT , lokasinya agak terisolir dari aktivitas kendaraan roda empat.
Disebelah Timur dipagari oleh rel kereta commuter line, disebelah Selatan dibatasi oleh kali kecil yang membelah RW 03 dengan Desa Warung Jambu, disebelah Utara dibatasi oleh kali irigasi.

Satu – satunya pintu keluar – masuk kendaraan roda empat warga RW 03 melalui jalan Perumahan Puri Bojong Lestari yang berada disebelah Utara , itupun hanya untuk kendaraan roda empat berukuran kecil.
Kondisi tersebut membuat RW 03 agak lamban perkembangannya dibanding RW – RW lain di Kelurahan Pabuaran , begitu juga dengan aktivitas perekonomiannya.

Dengan lahan yang luasnya lebih dari empat hektar, hanya enampuluh persen luas lahannya yang di jadikan hunian warga RW 03 berikut sarana pendukungnya, selebihnya berupa lahan tidur bekas sawah dan kolam ikan air tawar warga yang sudah tidak dimanfaatkan lagi, akibat air masuk dari kali irigasi yang berada disisi jalan utama Citayam – Bojonggede sering tidak mengalir, membuat hasil panen sawah dan ikan air tawar warga yang bergantung pada aliran air masuk tersebut, tidak sesuai harapan bahkan gagal.
Sehingga warga terpaksa menghentikan aktivitas bertaninya yang seringkali merugi.
Lahan tidur bekas sawah dan kolam ikan warga tersebut saat ini telah berubah menjadi semak belukar, tempat bersarangnya ular , biawak, musang dan binatang – binatang sejenisnya yang biasa hidup di lingkungan habitat seperti itu.
Kondisi tersebut cukup memprihatinkan, lahan yang seharusnya membantu menopang ekonomi warga, justru menjadi teror dan ancaman bagi ternak peliharaan warga dan khususnya anak – anak dari bahaya serangan binatang – binatang penghuni semak belukar tersebut.
Upaya mengembalikan semak belukar menjadi sawah atau ladang petanian lainnya serta kolam ikan air tawar, telah mulai dilakukan oleh Pengurus Karang Taruna RW 03 bersama warga , dengan melebarkan dan mendalamkan saluran air yang masuk dari kali irigasi serta memfungsikan kembali beberapa kolam ikan yang ada, namun untuk upaya lanjutannya Karang Taruna masih terkendala oleh besarnya biaya yang dibutuhkan, diantaranya untuk membeli mesin pompa irigasi untuk antisipasi jika debit air kali irigasi kecil, untuk pengadaan bibit ikan dan tanaman serta untuk membuka lahan tidur berupa semak belukar yang cukup luas .
Sementara jika mengandalkan bantuan warga untuk membiayai kegiatan tersebut, hampir tidak mungkin mengingat kondisi keuangan warga saat ini sangat terbatas, bila dipaksakan sekalipun, realisasinya butuh waktu lama.
Satu – satunya solusi yang paling dekat adalah mengharapkan pendampingan dari aparat pemerintah terutama untuk membantu Karang Taruna mencarikan sumber dana untuk pembiayaannya, memberi arahan mengenai tata kelola lahan pertanian yang produktif , ramah lingkungan , apik dan berkelanjutan , melakukan pembinaan kemampuan manajerial usaha yang tertib, terbuka dan efisien serta membantu akses pemasaran hasil taninya.
Dikhawatirkan apabila masalah keterbatasan modal untuk mewujudkan mimpi mereka menemui jalan buntu, akan berdampak pada semangat mereka yang ingin menjadikan RW 03 dua atau tiga tahun kedepan menjadi salah satu pemasok ikan air tawar di Citayam Bojonggede dan menjadikan kampung asri bernuansa pedesaan yang berada diantara perkampungan padat penduduk, padam.
Kondisi seperti ini mungkin juga dirasakan daerah – daerah lain, tidak hanya di RW 03 Pabuaran.
Memiliki harapan yang sama akan tersedianya pendampingan dari aparat pemerintah yang terjun langsung membantu warga menerapkan program ketahanan pangan dengan segala aspek turunannya sebagai bentuk upaya lanjutan dari penyuluhan yang telah disampaikan sebelumnya.
Sekaligus sebagai kontrol atau pengawasan langsung terhadap proses perjalanan program tahap demi tahap.
