BATARA.INFO, Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026 kembali menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek. Prospek (outlook) untuk peringkat jangka panjang juga tetap stabil, mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dalam laporannya, S&P menilai pemerintah Indonesia tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit APBN di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meskipun menghadapi tekanan kenaikan biaya energi dan meningkatnya kebutuhan subsidi.

S&P juga memperkirakan pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga energi melalui kompensasi dan subsidi, sekaligus memiliki ruang untuk memberikan stimulus ekonomi apabila tekanan ekonomi global masih berlanjut.
Untuk menjaga defisit tetap di bawah 3 persen PDB, pemerintah diperkirakan melakukan efisiensi pada sejumlah pos belanja, termasuk penyempurnaan program makan bergizi gratis melalui peningkatan efisiensi, perbaikan desain program, dan penguatan pengawasan.

Di sisi penerimaan negara, S&P mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Penerimaan negara meningkat sekitar 21 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut didukung oleh membaiknya administrasi perpajakan, berkurangnya pengembalian PPN sektor ekspor, serta meningkatnya penerimaan negara bukan pajak dari sektor sumber daya alam.

S&P menilai konsistensi pemerintah menjaga disiplin fiskal selama beberapa pemerintahan menjadi salah satu faktor utama yang menopang profil kredit Indonesia. Komitmen terhadap batas defisit maksimal 3 persen PDB yang telah diatur dalam undang-undang sejak 2003 dinilai memberikan kepastian bagi investor.
Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut mengingatkan bahwa beban pembayaran bunga utang pemerintah masih relatif tinggi akibat peningkatan utang selama pandemi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dalam jangka menengah, reformasi untuk memperluas basis penerimaan negara diperkirakan akan semakin memperkuat kondisi fiskal Indonesia.
Menanggapi penegasan peringkat kredit tersebut, Wakil Ketua DPR RI Prof. Sufmi Dasco Ahmad menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa kebijakan ekonomi nasional berada pada jalur yang tepat.
“Penegasan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil merupakan bentuk kepercayaan masyarakat internasional terhadap fundamental ekonomi nasional. Ini menunjukkan bahwa disiplin fiskal, pengelolaan APBN yang hati-hati, serta berbagai reformasi yang dilakukan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor. DPR RI akan terus mendukung kebijakan yang memperkuat daya tahan ekonomi nasional sekaligus memastikan setiap program pemerintah dijalankan secara efektif, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.” (Pernyataan disusun sebagai komentar berdasarkan isi laporan S&P.)
S&P memperkirakan rasio utang pemerintah akan meningkat secara bertahap menjadi sekitar 37,4 persen dari PDB pada akhir 2029, dibandingkan 36,4 persen pada 2024, namun tetap berada pada tingkat yang dinilai terkendali bagi negara dengan peringkat investasi.
Penegasan peringkat kredit ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki fundamental ekonomi yang solid serta prospek pertumbuhan yang tetap positif di tengah dinamika ekonomi global.
