Ki ke ka ; Ketum DPP PWKI, Pdt.Deety B T Liow – Mambo, S.Th memberikan cenderamata kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Arifatul Choiri Fauzi, Hotel Kebayoran Park, kawasan Ulujami, Jaksel, Sabtu siang (28/2/2026).
Foto : Humas DPP PWKI
BATARA.INFO, Jakarta – “Hari ini saya datang di acara ulang tahun ke-80 Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI), yang tentunya banyak karya-karya yang sudah dilakukan organisasi ini. Karena itu, di hari berbahagia ini, kami mengajak PWKI untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan kementerian PPPA mencari solusi bersama-sama terhadap persoalan yang dihadapi perempuan dan anak-anak Indonesia.
Untuk perempuan Indonesia termasuk dari PWKI ayo kita perkuat keluarga Indonesia, jaga anak-anak kita, dan kita menjaga perempuan Indonesia, sebab saya yakin PWKI mampu dan bisa,” tutur Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi ketika ditemui wartawan usai memberi sambutan di HUT PWKI tersebut, Hotel Kebayoran Park, kawasan Ulujami, Jaksel, Sabtu siang (28/2/2026).

Sebelumnya dalam sambutannya Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, menyatakan bahwa PWKI dan Muslimat NU ini sebenarnya adik – kakak. Yang mana, PWKI lahir pada 28 Februari 1946 dan Muslimat NU lahir 29 Maret 1946. Jadi, saya kalau panggil teman-teman PWKI harusnya Kakak. Karena hanya beda sebulan lebih sehari.
Karena itu, ini momen yang sangat penting untuk kita membangun kolaborasi dan sinergi.
Seperti yang diangkat PWKI di HUT ke-80 memberdayakan perempuan dalam segala aspek. Ini sangat relevan dengan visi misi dan program-program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ucapnya.

Terkait hal tersebut, Menteri PPPA menyatakan bahwa populasi penduduk Indonesia ; 49 persen perempuan dan 28 persen anak-anak. Artinya apa? Bahwa Perempuan dan anak menguasai 70 persen lebih dari penduduk Indonesia. Arti lainnya juga bahwa perempuan dan anak mempunyai peran yang penting dan strategis bagi kemajuan Indonesia ke depan.
Pasalnya, Ibu mempunyai peran mendidik, membimbing dan memberikan pola asuh kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Namun, kenyataannya perempuan dan anak belum mendapat akses yang sama dengan yang lainnya, misal akse pendidikan, akaes kesehatan dan akses untuk menjadi leader atau pemimpin, tegasnya.

Karena itu, kita saat ini mempunyai tantangan yang tidak kecil dan tantangannya pun beragam. Maka dari itu, kementerian PPPA berharap ormas seperti PWKI punya peran strategis yang penting. Apalagi usia ke-80 PWKI punya proses yang sangat panjang dan punya pengalaman luar biasa, hanya tinggal di tingkatkan saja, dan saya yakin PWKI bisa menjawab tantangan tersebut.
Terkait tantangan tersebut, Menterti PPPA memaparkan tentang 35 ribu kasus yang diterima, itupun sepertinya hanya fenomena gunung es, dan hanya sedikit yang berani bercerita.Ini menjadi tugas kita bersama untuk bisa mengatasi tantangan tersebut, ketika korban berani bercerita, maka ini bisa menyelamatkan korban perempuan dan anak.
Kami mengajak peran dari Ormas keagamaan seperti PWKI untuk menanamkan nilai-nilai rohani yang memberi semangat. Sebab, kami yakin tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang kekerasan, pintanya.
Kami dari kementeriaan PPPA, saat ini lagi mengembangkan Ruang Bersama Indonesia yang melibatkan seluruh stake holder di tingkat desa, ya perempuan nya, ya anaknya, tandasnya.
Berpijak dari hal tersebut, maka kementerian PPPA menganalisa, bahwa korban kekerasan perempuan dan anak biasanya dipengaruhi faktor ekonomi, pola asuh, dan lingkungan sekitarnya. Seperti kasus anak di Ngada NTT yang mengakhri hidupnya dengan bunuh diri karena persoalan tidak mampu membeli alat tulis seharga 10 ribu rupiah.
Adapun perhelatan HUT ke-80 PWKI selama dua (2) hari, Jumat – Sabtu (27/2/2026 dan 28/2/2026) selain dihadiri DPD, DPC dan PAC PWKI dari seluruh Indonesia juga menghadirkan pembicara Wamen PPPA, Veroniva Tan, Wamenkes DR. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, Sekum PGI, Pdt.Darwin Dermawan, Sekda Papua, Christian Sohilait, S.T., M.Si. Acarapun dimeriahkan dengan lagu-lagu rohani yang dibawakan artis Lydia Nursaid.
