Menyikapi Penghancuran Zaman

Resensi Buku

Dua dekade perubahan yang penuh kerapuhan dan ketidakpastian. Menyusun siasat di tengah isu ketidakpastian, mengatasi krisis dengan perspektif baru.


Berubah Atau Terpuruk Catatan Tengah
Penulis : Anang S. Kusuwardono
Penerbit : Wiroyudo Publishing wiroyudopublishing.net, Jakarta, Desember 2025, xvi + 312 halaman

Percetakan : PT Gramedia

BATARA.INFO, Jakarta – Narasi tak henti diproduksi dan direproduksi. Setiap detik datang bertubi dalam perspektif yang sangat kontradiktif. Bertolak belakang dan saling menyangkal. Diproduksi oleh banyak corong dan sumber cerita. Disalurkan melalui medium serta kanal yang beragam.

Awalnya narasi seperti aliran sungai kecil. Revolusi teknologi informasi dan digital menjadikan narasi seperti gelombang tsunami. Ketika situs web berupa blog muncul, publik menyambut dengan antusiasme besar. Masuknya variasi konten, dari opini, informasi, pengalaman, gambar, hingga tutorial menjadi kelebihan dari sebuah blog.
Gaya bahasa yang informal, personal, interaktif, dan ringan menjadi daya pikatnya. Pembaharuan konten yang fleksibel, mendorong blog bermetamorfosis menjadi semacam jurnal online. Ini adalah kekuatannya.
Lahirnya kosa kata baru “blogging” dan “blogger” menandai demokratisasi informasi. Kisah tidak lagi monopoli pujangga, penguasa, begawan dan klan feodal.

Kemunculan blog pada medio 1990-an membuka jalan bagi media sosial dan konten berbasis personal yang kini marak. Blog menjadi bagian dari perkembangan kebebasan berekspresi, beropini, dan mengkritik. Bak cendawan di musim basah, beragam kategori blog bermunculan, mulai dari politik, sosial, profesional, teknologi, jurnalistik hingga gaya hidup dan hal-hal remeh-temeh lainnya.

Catatan Tengah yang Beda

Saat membaca “Catatan Tengah’’ lembar demi lembar, pikiran langsung terhenyak. Ini bukan tentang kisah masa lalu atau catatan heroik suatu peristiwa. Bukan pula gelontoran punchline atawa kalimat pamungkas yang memancing senyuman kecil. Apalagi serial mantra pamungkas yang instan. Tapi, ini tentang gundah gulana hati yang mulai dirajut 17 tahun lalu pada sebuah blog.

Awalnya hanya coretan kecil dan celutukan ringan, Tak terasa 200 artikel panjang dan catatan ringan telah mengisi blognya. Nampaknya, ada sesuatu yang menggerakkan si empunya cerita, Anang S. Kusuwardono. Bisa jadi keresahan untuk tidak berhenti merefleksikan dunia yang dipenuhi anomali dan kehilangan kewarasannya.

Krisis ekonomi global 2008 yang disulut skandal subprime mortgage, merefleksikan kesembronoan mengelola duit menjadi awal malapetaka. Ketidakhati-hatian itu racun, meningkatkan ketidakpastian dan memicu kebangkrutan. Efek dominonya menggilas kaum jelata yang tidak tahu menahu praktik lacung kredit properti. Dari balik deretan angka dan grafik yang naik, tersembunyi kerapuhan ekonomi.

Setali tiga uang, formalisme demokrasi dan mode ekstraktif sumber daya alam dapat menciptakan lubang hitam supermasif yang menelan kemajuan dan melenyapkan pencapaian humanistik. Dari ekonomi, kita diajak untuk menelanjangi alam pikir para pemburu rente Kurawa berdasi.
Dari politik, kita bisa menilai ajang berebut kekuasaan tidak lagi jalan pengabdian. Ini sudah menjadi seni memecah belah dan permainan nir etika bidak-bidak oligarki hingga niat buruk petualang ekstrastif SDA.

Kejujuran Dunia Fiksi

Lalu menyelami dunia melalui buku, novel, wayang dan film, kita diajak untuk mencari sasmita yang ada di balik pengembaraan para penulis dan sineas. Ilmu kehidupan tidak selalu ditemukan dalam fenomena sosial yang absurd dan tontonan kebobrokan deretan pemain watak. Kasunyatan justru dapat dipahami dari kejernihan sastra, keheningan fiksi, dan dialektika kritis tulisan.
Jika perjalanan pada kakikatnya adalah sebuah cakra manggilingan, maka dari sana setiap orang bisa mengambil hikmah. Hakikat perjalanan bukan soal visa, tiket dan koper. Bukan dari seberapa panjang jarak ditempuh dan seberapa banyak tempat dikunjungi, tapi sedalam apa titik henti menjadi jeda untuk mengkalibrasi arah kompas perjalanan hidup manusia.

Urip mung mampir ngombe. Dunia adalah tempat persinggahan. Dari perjumpaan dengan orang-orang dan kultur yang berbeda mestinya bisa membawa orang untuk sadar: urip iku urup. Sebuah filosofi Jawa, hidup itu seyogyanya memberikan manfaat bagi orang dan lingkungannya.
Memahami kehidupan dari sudut pandang Wisanggeni: tajam, nakal, jujur tapi mencari kebenaran sampai ke akarnya tidaklah mudah. Seperti kita masuk ke kamar “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”, ilmu kehidupan untuk membaca tanda-tanda zaman.

Dalam “Catatan-catatan Bernas” ada kegelisahan akut dan murni. Simak “Preman” dan “Pongah”. Ini adalah fakta pahit gerombolan penyamun bermental preman yang dengan pongah menukar integritas untuk dilacurkan demi uang dan kekuasaan. Tidak ada ruang bagi orang jujur.

Dari ‘’27 Alasan Psikologis Mengapa Orang Baik Melakukan Hal Tercela” semua orang bisa bercermin. Menelanjangi diri. Tidak sekedar menenangkan pikiran, memperkuat mental, atau membersihkan hati dari anasir-anasir negatif, namun menemukan kasunyatan urip. Sudah sejauh mana tersesat. Adakah jalan tersisa untuk kembali ke jalur yang bener lan pener.

Berubah Dalam Perspektif Baru

Jagad semesta ini obah (bergerak), muter (berputar) tanpa kendhat (tanpa henti). Pergerakan itu adalah kodrat. Menolak untuk bergerak berarti melawan kodrat. Berubah adalah sebuah keniscayaan. Yang membuat terpuruk dan terdepak bukanlah perubahan itu, tetapi kemalasan untuk mengerti bahwa semuanya harus terus berubah.
Ajeg (tetap) itu hanya milik Tuhan, kawula inilah pemilik anugerah kesadaran. Mendapat bekal mikir untuk menjadi pinter, laku tirakat bermati raga untuk berhati peka, dan luwes melangkah untuk adaptif.
“Catatan Tengah” tidak mengajak untuk netral, mencari jalan aman kompromistis, tapi eling lan waspada. Di gegap gempita lautan opini, jangan justru terlelap dalam goa kepasrahan apatis.

Tulisan-tulisannya merupakan titik henti sesaat yang memungkinkan kita merenung, untuk kemudian kembali bergerak dan berubah.
Ini inspirasi bahwa gundahmu itu valid, bingungmu itu penting, dan kisahmu itu bukan sekedar sejarah, tapi bekal pelajaran serta pijakan.

Selamat nggeblak terhenyak dengan perspektif baru.

Penulis: Arijo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *