INDEF: Investasi Energi Bersih dan Elektrifikasi Jadi Kunci Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%

BATARA.INFO, JAKARTA — Indonesia membutuhkan strategi investasi baru untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 7%-8% sekaligus mewujudkan ambisi menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045. Salah satu sektor yang dinilai memiliki daya ungkit besar adalah elektrifikasi dan pengembangan energi bersih.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan nilai investasi, tetapi memastikan setiap investasi menghasilkan produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja, dan daya saing yang lebih besar.

Direktur Kolaborasi Internasional INDEF Imaduddin Abdullah mengatakan kebutuhan investasi menjadi salah satu tantangan utama Indonesia dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di sekitar 5%, sehingga diperlukan akselerasi menuju kisaran 7%-8%.

“Dari perspektif ekonomi, Indonesia memiliki tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jika Indonesia ingin mencapai target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045, pertumbuhan ekonomi perlu mencapai kisaran 7% hingga 8%,” kata Imaduddin dalam Bisnis Indonesia Group Strategic Forum 2026, Selasa (8/9/2026).

Bukan Sekadar Banyak Investasi

Menurut INDEF, persoalan utama Indonesia adalah kualitas investasi. Rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang relatif tinggi menunjukkan bahwa tambahan modal belum sepenuhnya menghasilkan tambahan output secara optimal.

Artinya, strategi pembangunan ke depan tidak cukup hanya mengejar investasi dalam jumlah besar. Pemerintah perlu memastikan investasi masuk ke sektor yang memiliki produktivitas tinggi, menciptakan rantai pasok domestik, meningkatkan ekspor, menyerap tenaga kerja, serta menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Kajian INDEF sebelumnya juga menyoroti bahwa tingginya ICOR, produktivitas tenaga kerja yang masih relatif rendah, serta belum optimalnya kontribusi investasi terhadap ekspor dan nilai tambah merupakan tantangan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam konteks tersebut, investasi energi bersih memiliki posisi strategis karena listrik merupakan fondasi bagi industrialisasi, digitalisasi, kawasan industri, kendaraan listrik, pusat data, hingga pengembangan industri berbasis teknologi.

Energi Bersih Bisa Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Transisi energi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai agenda lingkungan. Perkembangan teknologi membuat energi terbarukan semakin terkait dengan efisiensi biaya dan daya saing industri.

Dalam forum yang sama, pelaku industri energi menilai kombinasi pembangkit listrik tenaga surya dengan battery energy storage system (BESS) mulai semakin ekonomis untuk sejumlah kebutuhan industri. Kondisi ini membuka peluang energi hijau menjadi bagian dari strategi penurunan biaya operasional sekaligus meningkatkan daya saing industri.

Indonesia sendiri memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Dalam BIG Strategic Forum 2026, potensi energi baru terbarukan Indonesia disebut mencapai lebih dari 3.700 GW. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan modal yang tinggi, infrastruktur, interkoneksi jaringan, regulasi dan kepastian investasi.

Karena itu, agenda elektrifikasi perlu dilihat sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional, bukan sekadar perubahan sumber energi.

Dari Energi ke Industrialisasi

Jika investasi energi bersih berhasil diintegrasikan dengan pembangunan industri, efek ekonominya berpotensi lebih luas.

Listrik yang kompetitif dan semakin rendah emisi dapat menjadi daya tarik bagi industri manufaktur, kawasan industri hijau, kendaraan listrik, baterai, pusat data, dan industri teknologi.

Pemerintah juga tengah mendorong berbagai kebijakan menuju energi yang lebih bersih, termasuk pengembangan kapasitas energi terbarukan dalam skala besar. Pada sektor transportasi, elektrifikasi kendaraan juga dinilai dapat membuka investasi baru sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

INDEF sebelumnya juga mencatat bahwa ekosistem kendaraan listrik memiliki potensi menciptakan dampak ekonomi dan lapangan kerja, terutama apabila produksi kendaraan, baterai, dan komponen semakin terintegrasi di dalam negeri.

Tantangan: Jangan Sampai Investasi Hijau Hanya Jadi Label

Dari perspektif opini publik dan pengamat ekonomi, tantangan terbesar bukan sekadar mendapatkan investasi hijau, tetapi memastikan investasi tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Investasi energi bersih akan lebih berarti apabila mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia, memperkuat industri lokal, menekan biaya energi, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sebaliknya, jika proyek hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur tanpa memperkuat rantai pasok nasional, transfer teknologi dan kapasitas sumber daya manusia, dampaknya terhadap pertumbuhan berkualitas berpotensi terbatas.

Karena itu, kebijakan investasi perlu diarahkan pada high impact investment—investasi yang menghasilkan multiplier effect besar terhadap perekonomian.

Kunci Pertumbuhan 8% Ada pada Produktivitas

Target pertumbuhan 7%-8% merupakan tantangan besar karena Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pola pertumbuhan lama.

Pertumbuhan tinggi membutuhkan kombinasi investasi, produktivitas, konsumsi, ekspor, industrialisasi, infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks itu, elektrifikasi dan energi bersih dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi yang lebih produktif dan bernilai tambah.

Kajian INDEF mengenai transformasi sistem ketenagalistrikan menunjukkan bahwa reformasi sektor listrik, termasuk kepastian harga dan skema investasi yang lebih bankable, dapat meningkatkan daya tarik investasi. Simulasi INDEF bahkan memperkirakan insentif energi baru terbarukan dapat meningkatkan investasi agregat 1,55% dan PDB riil 0,22%.

Dengan demikian, pesan utama dari diskursus ekonomi saat ini semakin jelas: Indonesia tidak cukup hanya mengejar investasi yang besar, tetapi harus mengejar investasi yang menghasilkan pertumbuhan yang besar.

Elektrifikasi dan energi bersih berpotensi menjadi salah satu pintu masuknya—dengan syarat pemerintah mampu menghadirkan kepastian regulasi, pembiayaan yang kompetitif, infrastruktur yang memadai, serta ekosistem industri yang mampu menangkap nilai tambah di dalam negeri.

Jika seluruh prasyarat tersebut terpenuhi, transisi energi bukan hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia menuju 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *