BATARA.INFO, Jakarta – Ulang tahun bagi sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh nasional tidak lagi sekadar menjadi momentum perayaan usia. Dalam beberapa tahun terakhir, hari ulang tahun juga kerap dipilih sebagai waktu untuk meluncurkan buku yang merekam perjalanan hidup, pemikiran, prestasi, maupun pengabdian mereka kepada bangsa.
Fenomena tersebut kembali terlihat pada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.
Pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-50, Bahlil meluncurkan 10 buku dalam acara bertajuk “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” di Jakarta. Presiden Prabowo Subianto turut hadir dalam acara tersebut.
Buku-buku tersebut antara lain membahas hilirisasi sumber daya alam, investasi, kawasan industri, energi, hingga kendaraan listrik. Dengan demikian, momentum ulang tahun tidak hanya menjadi perayaan personal, tetapi sekaligus menjadi ruang untuk mendokumentasikan gagasan dan perjalanan pengabdian.
Bahlil, Dari Satu Buku Menjadi 10 Buku
Peluncuran 10 buku Bahlil pada 2026 merupakan contoh paling aktual bagaimana ulang tahun seorang tokoh dapat dikemas menjadi momentum legacy.
Bahlil sebelumnya juga mendapat persembahan buku dari kader muda Partai Golkar. Pada 7 Agustus 2025, kader muda Golkar yang berasal dari organisasi Cipayung dan BEM meluncurkan buku Menjaga Nurani Menata Negeri: Persembahan Kader Muda Kepada Sang Ketua sebagai persembahan untuk ulang tahun Bahlil. Buku setebal 195 halaman tersebut memuat refleksi dan gagasan kader muda terhadap perjalanan politik Bahlil.
Artinya, dalam dua momentum ulang tahun berturut-turut, buku menjadi bagian penting dari narasi perjalanan Bahlil.
Ma’ruf Amin: Ultah ke-80 Ditandai Buku Biografi
Pola serupa dilakukan Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin.
Pada 11 Maret 2023, tepat pada ulang tahunnya yang ke-80, Ma’ruf Amin meluncurkan buku 80 Tahun Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin: Kiai Wapres, Wapres Kiai.
Peluncuran tersebut secara resmi dilakukan bertepatan dengan hari kelahirannya dan mengangkat perjalanan Ma’ruf Amin sebagai ulama sekaligus pejabat negara.
Buku tersebut menunjukkan bahwa usia 80 tahun dapat dikemas bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai rekam jejak perjalanan seorang tokoh nasional.
Yusril Ihza Mahendra: Usia 70 Tahun, Delapan Buku Sekaligus
Fenomena ini semakin menarik pada Yusril Ihza Mahendra.
Pada Februari 2026, saat memasuki usia 70 tahun, Yusril meluncurkan delapan buku yang merekam perjalanan hidup, pemikiran hukum, politik, serta kiprahnya selama puluhan tahun.
Yusril menjelaskan bahwa berbeda dengan ketika berusia 60 tahun, ketika ia menulis sendiri, buku-buku pada usia 70 tahun justru disusun oleh kolega dan sejumlah penulis lain yang menghimpun perjalanan, gagasan, serta testimoni mengenai dirinya.
Model ini memperlihatkan perubahan dari autobiografi menjadi legacy book: bukan lagi hanya tokoh yang bercerita tentang dirinya, tetapi orang-orang di sekitarnya ikut merekam perjalanan tokoh tersebut.
Jimly Asshiddiqie: Buku Menjadi Refleksi 70 Tahun
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie juga mengalami pola yang sama.
Dalam rangkaian peringatan usia 70 tahun pada April 2026, Mahkamah Konstitusi mempersembahkan buku Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman. Peluncuran buku tersebut bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-70 Jimly.
Buku tersebut bukan semata-mata biografi, tetapi menjadi ruang refleksi terhadap pemikiran dan kontribusi Jimly dalam perkembangan hukum tata negara Indonesia.
Bamsoet: Usia 60 Tahun Ditandai Dua Buku
Ketua MPR RI periode sebelumnya, Bambang Soesatyo atau Bamsoet, juga menggunakan momentum ulang tahun sebagai waktu peluncuran buku.
Pada 10 September 2022, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-60, Bamsoet meluncurkan dua buku. Salah satunya berjudul Meniti Buih di Antara Karang, yang menandai perjalanan 60 tahun kehidupannya sebagai politisi dan pengusaha. Buku tersebut juga memuat catatan dan kesaksian dari para sahabatnya.
Megawati dan Chairul Tanjung
Pola buku sebagai bagian dari momentum ulang tahun juga terlihat pada tokoh nasional lainnya.
Pada perayaan ulang tahun ke-72 Megawati Soekarnoputri, buku The Brave Lady diluncurkan dan mengangkat kepemimpinan Megawati ketika menjadi Presiden RI.
Sementara itu, Chairul Tanjung meluncurkan autobiografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong, yang merangkum perjalanan hidupnya dari masa muda hingga menjadi pengusaha nasional. Buku tersebut diterbitkan pada 2012 dan menjadi salah satu contoh penting bagaimana perjalanan hidup seorang tokoh dapat dikemas menjadi karya yang memiliki nilai dokumentasi dan inspirasi.
Mengapa Ulang Tahun Menjadi Momentum Launching Buku?
Ada sejumlah alasan mengapa ulang tahun, terutama usia 50, 60, 70, atau 80 tahun, menjadi momentum yang sangat strategis untuk meluncurkan buku tokoh.
Pertama, ulang tahun memberikan momentum pemberitaan.
Peluncuran buku biasanya membutuhkan alasan aktual agar menarik perhatian media. Angka usia memberikan news peg yang kuat.
Judul seperti “70 Tahun Yusril”, “80 Tahun Ma’ruf Amin”, atau “Setengah Abad Bahlil Lahadalia” langsung memiliki nilai berita.
Kedua, usia tertentu merupakan milestone kehidupan.
Usia 50 tahun dapat menjadi momentum evaluasi perjalanan karier. Usia 60 tahun menunjukkan kematangan. Usia 70 tahun mulai memasuki fase legacy, sedangkan usia 80 tahun semakin kuat sebagai dokumentasi sejarah hidup.
Ketiga, buku mengubah pesta ulang tahun menjadi acara yang memiliki nilai intelektual.
Daripada sekadar tasyakuran atau perayaan, ulang tahun dapat dikemas menjadi peluncuran buku, diskusi, bedah buku, dan refleksi perjalanan hidup.
Keempat, buku menjadi legacy.
Jabatan seseorang mungkin hanya berlangsung beberapa tahun. Namun buku dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Di dalamnya dapat direkam:
- perjalanan hidup;
- pendidikan;
- karier;
- prestasi;
- pemikiran;
- keputusan penting;
- pengalaman menghadapi krisis;
- kesaksian kolega;
- serta kontribusi kepada bangsa.
Karena itu, buku bukan hanya merchandise ulang tahun, tetapi dapat menjadi warisan intelektual seorang tokoh.
Dari Biografi Menuju “Legacy Book”
Fenomena Bahlil, Yusril, Jimly, Ma’ruf Amin dan Bamsoet memperlihatkan adanya evolusi konsep penerbitan buku tokoh.
Dulu, buku tokoh lebih banyak berupa biografi.
Kini konsepnya berkembang menjadi:
Biography → Journey → Achievement → Thought → Testimony → Legacy.
Bahkan satu tokoh dapat memiliki beberapa buku sekaligus dengan perspektif yang berbeda.
Yusril, misalnya, pada usia 70 tahun memilih format delapan buku. Bahlil pada usia 50 tahun bahkan meluncurkan 10 buku sekaligus.
Ulang Tahun sebagai “Legacy Moment”
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ulang tahun tokoh nasional sebenarnya dapat menjadi sebuah legacy moment.
Perayaan usia tidak berhenti pada seremoni, tetapi menghasilkan sebuah karya yang dapat disimpan, dibaca dan diwariskan.
Karena itu, formula:
“Satu Usia – Satu Buku – Satu Legacy”
berpotensi menjadi konsep baru dalam industri penerbitan buku tokoh di Indonesia.
Bagi penerbit, momentum idealnya bahkan tidak dimulai pada hari ulang tahun. Proses pengumpulan bahan, wawancara, penulisan, editing, desain, percetakan, hingga persiapan launching idealnya dimulai 6–12 bulan sebelumnya.
Dengan demikian, pada hari ulang tahun tokoh, bukan sekadar pesta yang berlangsung, tetapi sebuah warisan pemikiran yang resmi lahir dan dapat dinikmati publik.
Batara.info – Merawat Informasi, Mengabadikan Inspirasi.
